Bahasa Ibu Tak Pernah Mati: 7 Prestasi Mengantar SMPN 3 Cibadak ke Tingkat Kabupaten

Dipublikasikan: 2026-09-24 15:16:25

Cibadak, 24 September 2026 — Bahasa ibu bukan sekadar bahasa yang kita dengar sejak kecil. Di dalamnya tersimpan identitas, budaya, sejarah, bahkan jejak kehidupan para leluhur.
Dan hari ini, di tengah derasnya arus zaman, para tunas muda SMPN 3 Cibadak membuktikan bahwa bahasa dan budaya Sunda masih memiliki tempat istimewa di hati generasi muda.

Kamis, 24 September 2026, SMPN 3 Cibadak menjadi tempat digelarnya Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 tingkat Sub Rayon 2 Cibadak. Kegiatan ini menjadi ruang bagi para pelajar untuk menunjukkan kecintaan terhadap bahasa dan sastra Sunda sekaligus mengasah keberanian, kreativitas, dan kemampuan mereka.

FTBI 2026 mempertandingkan tujuh cabang mata lomba, yaitu Aksara Sunda, Pupuh, Borangan, Carpon, Biantara, Dongeng, dan Sajak.
Siswa-siswi SMPN 3 Cibadak turut ambil bagian. Bukan sekadar menjadi peserta, mereka datang membawa semangat untuk memberikan yang terbaik bagi sekolah.

Hasilnya sungguh membanggakan.
Dari tujuh cabang yang dipertandingkan, SMPN 3 Cibadak berhasil membawa pulang tujuh prestasi, dengan empat di antaranya merupakan Juara 1.
? Tujuh Prestasi, Tujuh Kebanggaan
Juara 1 Pupuh Putra
? Yaumil — Kelas 9D
Juara 1 Pupuh Putri
? Salsabila — Kelas 9H
Juara 1 Borangan Putra
? Luthfi — Kelas 9G
Juara 1 Borangan Putri
? Salsa — Kelas 8E
Juara 2 Aksara Sunda Putra
? Tanzil — Kelas 9F
Juara 2 Aksara Sunda Putri
? Meitsa — Kelas 8A
Juara 3 Sajak Putri
? Adinda — Kelas 8E

Prestasi tersebut sekaligus mengantarkan para juara SMPN 3 Cibadak untuk melanjutkan perjuangan ke tingkat Kabupaten Sukabumi.
Namun, di balik deretan piala dan penghargaan itu, ada sesuatu yang jauh lebih berharga.
Ada anak-anak yang mau belajar. Ada keberanian untuk tampil. Ada kegigihan berlatih. Ada guru yang membimbing Pak Anan Daros, S.Pdi, Bu Siti Zulaeha,S.Pd, Bu Nopia Pebriyanti, S.Pd, Bapak Ibu Wali Kelas, dan ada dukungan sekolah. Dan yang paling penting, ada kecintaan terhadap bahasa dan budaya sendiri.

Sebab di zaman ketika anak-anak semakin akrab dengan bahasa digital, media sosial, dan berbagai budaya dari penjuru dunia, masih ada generasi muda yang mau membuka lembaran aksara Sunda, melantunkan pupuh, menyampaikan sajak, dan mempertunjukkan seni tradisi.
Mereka sedang menjaga sesuatu yang tidak boleh hilang.
FTBI akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.
FTBI adalah tentang bagaimana sebuah generasi belajar berkata kepada zaman:
“Kami boleh hidup di masa kini, tetapi kami tidak akan melupakan akar kami.”
Selamat kepada Yaumil, Salsabila, Luthfi, Salsa, Tanzil, Meitsa, dan Adinda atas prestasi yang telah ditorehkan.
Perjalanan belum selesai.

Kini panggung yang lebih besar menanti. Tingkat Kabupaten Sukabumi menjadi tujuan berikutnya.
Bawa keberanian.
Bawa semangat.
Bawa nama baik sekolah.

Dan yang paling penting, bawa bahasa ibu dengan penuh kebanggaan.
Karena sebuah bahasa akan tetap hidup bukan hanya karena ditulis dalam buku, tetapi karena masih ada anak-anak yang mau mengucapkannya, melantunkannya, memainkannya, dan mencintainya.
Hari ini tujuh tunas telah tumbuh di SMPN 3 Cibadak.

Besok, semoga mereka menjadi bunga yang mekar di panggung Kabupaten Sukabumi.
Bahasa ibu adalah akar.
Budaya adalah jati diri.
Prestasi adalah buah dari perjuangan.
SMPN 3 Cibadak—Cerdik, Berbudi, Berprestasi!